Langsung ke konten utama

Tafsiran Yohanes 7:37-39a

 TAFSIRAN KITAB INJIL

YOHANES 7:37-39a

I. Pengantar

    Dalam Perikop ini, Yesus sedang mengajar di Bait Allah pada saat peristiwa hari raya Pondok Daun di Yerusalem. Hari raya Pondok Daun merupakan salah satu dari pesta besar Yahudi. Hari raya Pondok Daun berarti pesta pengumpulan hasil panen. Bagi bangsa Israel, musim-musim adalah karya Pencipta demi kepentingan manusia, yang mewujudkan kemurahan hati Allah terhadap ciptaan-Nya. Dengan merayakan hari raya tersebut, manusia tidak hanya mengakui Allah sebagai pemberi kebutuhan hidup, melainkan menceritakan kasih Allah yang tak terbatas dan bebas bagi umat yang dipilih-Nya, yang dilepaskan-Nya dari perbudakan melalui campur tangan-Nya sendiri (bnd. Im. 23:39-43). Pada hari raya Pondok Daun diadakanlah upacara penumpahan air dan hal ini juga dicerminkan dalam pengumuman Yesus pada ay.37. Upacara ini mengakui bahwa hujan merupakan pemberian Tuhan yang dibutuhkan supaya tanah subur (bnd Zak 14:17) dengan begitu segala panen akan berlimpah tidak ketinggalan juga bahwa penumpahan air merujuk kepada simbol yang bermakna akan pengampunan dosa (bnd. 1 Sam. 7:6). Para peziarah akan merasakan kegembiraan saat air dicurahkan, bahkan menurut tradisi bahwa barangsiapa tidak merasakan kegembiraan saat air dicurahkan maka ia tidak akan merasakan kegembiraan lagi sepanjang hidupnya (bnd. Yes 12:3). Hal inilah yang senantiasa dibacakan dalam perayaan hari raya Pondok Daun kepada para peziarah bahwa Keselamatan dan penyertaan dari Tuhan ada pada masa lalu, sekarang, dan masa depan.     

II. Isi

    Secara bentuk dan isi, perikop ini mengingatkan kita kepada perkataan Yesus “Roti Hidup” (6:35) yaitu tentang “barangsiapa datang...” dan “barangsiapa percaya...”. Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa ada orang yang datang kepada-Nya namun tidak percaya kepada-Nya seperti apa yang telah dikatakan oleh Yesus pada 6:36 bahwa ada yang telah melihat namun tidak percaya. Pengumuman ini diulangi lagi oleh Yesus dengan objek yang berbeda yaitu “Air Sumber Hidup”, barangsiapa haus datang kepada-Nya dan barangsiapa percaya akan mengalir aliran-aliran air hidup. Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai sumber air hidup. Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan bagi kita mengapa Yesus menggambarkan diri-Nya dengan mengacu kepada air. Pertama, pada peristiwa di taman Eden, aliran-aliran air dilambangkan sebagai sumber kehidupan dan penyedia makanan bagi seluruh ciptaan-Nya. Oleh sebab itu manusia dapat melaksanakan apa yang telah difirmankan oleh Allah yaitu mengusahakan dan memelihara ciptaan. Kedua, dalam eskatologis telah dinyatakan bahwa Allah menggambarkan diri-Nya sebagai sumber air yang hidup (Yer. 2:13; 17:13). Dalam PB, Yesus itu adalah sumber air hidup, memberikan Roh Kudus kepada orang percaya dan kemudian mengalir dari dalam diri mereka. Oleh sebab itu, eskatologis dalam kitab Yeremia telah digenapkan di dalam diri Yesus Kristus. Maka tepatlah pengumuman ini di beritakan oleh Yesus saat peristiwa hari raya Pondok Daun bahwa Dia-lah sumber air hidup.

    Barangsiapa haus baiklah ia datang (ay. 37). Siapa pun boleh datang kepada Dia yang adalah sumber kehidupan. Orang yang diundang oleh Allah adalah bagi mereka yang merasa haus. Kata haus dalam bahasa Yunani (dipos) memiliki makna meminta dengan kesungguhan atau sangat membutuhkan. Makna haus pada apa yang dikatakan oleh Yesus Kristus adalah orang yang menderita baik dalam hal jasmani (fisik, ekonomi, dll) dan rohani (spiritualitas dan pertobatan). Oleh sebab itu, seruan ini ditujukan kepada orang yang sangat membutuhkan penghiburan dan pertolongan dari Tuhan. Hal ini sama dengan apa yang dikatakan oleh Yesus Kristus dalam menjawab pernyataan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bahwa bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit dan Kristus datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa supaya mereka bertobat (Lukas 5:31-32). Maka hanya dengan datang kepada Kristus-lah orang yang haus akan disegarkan dan mengalami rasa penuh akan sukacita selamanya (bnd. Yoh. 4:14).

    Barangsiapa percaya kepada-Ku (ay. 38). Alkitab dengan gamblang menunjukkan perbuatan manusia tentang datang kepada Allah dan yang percaya kepada Allah. Salah satu contoh pada peristiwa Yesus menyembuhkan kesepuluh orang kusta. Kesepuluh orang kusta berteriak agar Yesus mengasihi mereka, namun hanya satu orang yang setia dan melakukan imannya dengan kembali memuliakan Allah dan mengucap syukur sedangkan ke-sembilan orang lagi tidak kembali untuk memuliakan Allah (bnd. Luk. 17: 11-19). Tidak jarang seseorang datang kepada Allah saat dalam penderitaan dan melupakan Allah saat kelimpahan menghampirinya. Kata percaya memiliki makna bahwa seseorang dengan setia melakukan perbuatannya seturut dengan imannya kepada Kristus (bnd Yak. 2:14-26). Iman harus bekerja sama dengan perbuatan. Datang kepada Allah juga harus percaya kepada Allah. Melalui kepercayaan itu maka orang akan mempersaksikan imanmu melalui perbuatanmu seperti apa yang dikatakan oleh Yesus kepada perempuan Samaria bahwa mata air itu akan memancar kepada banyak orang. Demikian juga pada ay.38 bahwa orang yang datang kepada Allah dan memuliakan-Nya melalui perbuatan-Nya maka dalam hatinya akan mengalir air hidup yang akan menyegarkan dan memberikan penghiburan kepada setiap orang yang percaya yaitu Roh (ay. 39) sehingga melalui-Nya kita akan diajarkan segala sesuatu dan mengingatkan kita akan semua firman dan kehendak Tuhan (bnd. 14:26).    

III. Kesimpulan dan Refleksi

1)Yesus adalah air sumber hidup. Yesus adalah penggenapan segala simbol yang dirayakan pada hari raya Pondok Daun. Oleh sebab itu, Yesus-lah pemberi kehidupan yang menebus dosa manusia. Ia datang kepada orang salah yang mau bertobat dan menyegarkan segala penderitaan dalam kehidupan kita.  

2)Ibadah Yang Sejati. Ibadah yang sejati menurut Paulus adalah perubahan segala aspek kehidupan kita secara total yang berkenan kepada Allah (Rom.12:1-2). Datang kepada Allah, beribadah dan bersekutu memuliakan nama Allah sambil mendengarkan firman-Nya  harus dibarengi dengan perubahan totalitas kehidupan seturut dengan kehendak Allah sebagai bukti iman kita kepada-Nya. Teologi pohon yang baik dikenal dari buah yang baik. Orang beriman dikenal dari kasihnya kepada sesama sebagai bentuk pengenalannya akan Allah. 

3)Baptisan Kudus. Perikop ini menampilkan simbolisme air dalam berbicara tentang Roh Kudus. Gereja menerima simbolisme ini dan menggunakannya dalam sakramen baptisan. Melalui air baptisan, Roh Kudus tinggal di dalam orang Kristen (3:5), dan Roh mengalir dari dalam dirinya” (7:38). Roh Kudus memberi kita bagian dalam hidup kekal Allah. Kitab Suci berbicara tentang air yang memberi kehidupan dan pencurahan Roh Kudus sebagai unsur-unsur ciptaan baru Allah. Melalui Roh Kudus, kita menjadi bagian dari ciptaan baru di dalam Kristus (2 Kor 5:17) dan benar-benar ikut ambil bagian dalam keselamatan (bnd. Luk. 10:20b).


Penulis Oleh: Zetro Panggabean S. Th

Medan, 30 Mei 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tafsiran Mazmur 37:34-40

  Tuhan adalah Penolong Orang Benar I. Pengantar Mazmur pasal 37 ini membahas mengenai kemakmuran yang nyata terjadi bagi orang jahat. Orang-orang beriman merasa bingung bahwa orang jahat tampak makmur meskipun pengajaran alkitabiah menunjukkan bahwa tidak seharusnya demikian (Ayub 4:7-8;; Mzm 5:4-6; Amsal 10:16). Perikop ini juga sama seperti pada Pasal 73 dimana pemazmur juga bergulat dengan topik teodisi (keadilan Allah) antara orang yang jahat dan tulus hatinya. Seorang guru yang sudah tua dan berpengalaman (ay. 25) menyaksikan dan menasihatkan janji ini untuk membangun kepercayaan dan keyakinan yang lebih besar kepada Tuhan bagi orang percaya yang menjaga iman mereka. Pemazmur memproyeksikan pandangan sejarah yang panjang, dan orang yang benar akan menang. Oleh sebab itu, orang benar tidak perlu resah dalam iri hati atau takut pada orang jahat sebab Tuhan yang akan menjadi penolong kita. Oleh karena itulah, teologi dari perikop ini yaitu Tuhan adalah penolong orang benar. 1. ...